Rabu, 17 Juni 2009

Dosa TV dan Emansipasi Wanita

Jangan salah sangka dulu ya, ini bukan pelajaran agama, ya walaupun memakai kata “dosa” yang langsung mengingatkan kita pada neraka.. . .. . he. . .he

Aku cuma ingin ngebahas masalah Emansipasi Wanita saat ini yang menurut aku udah g’ sehat lagi. . bener g’?

Semua media selalu mengumbar isu Emansipasi wanita, dari mulai talk show seperti “Tupperware” she Can di Trans 7, sinetron – sinetron yang menampilkan wanita – wanita karier yang sukses, serta para feminis di berbagai mediaTV yang mengerakkan para wanita untuk terjun ke ranah public.

Saat ini, semua wanita seolah – olah berlomba untuk mendapatkan karier yang mapan dan reputasi yang bagus. Para wanita yang telah terpengaruh isu ini selalu gencar meneriakkan, “Bangkitlah dari perbudakan kaum lelaki”. Namun kenyataannya di zaman modern ini, justru mereka diperbudak oleh apa yang mereka sebut emansipasi. Bagaimana tidak,wanita saat ini yang menjunjung emansipasi dan terjun ke ranah public harus rela meninggalkan rumah sejak pagi hingga malam hari, bekerja dengan pakaian minim yang membangkitkan syahwat. Bukankah itu suatu “perbudakan’ modern, tidakkah mereka mengingkari fitrah wanita sebagai makhluk yang lemah.

Sekali lagi, media TV telah mengubah dunia kita dengan sifatnya yang arogan.

Peran ibu sebagai pencerah peradaban , pusat pembentukan nilai atau “pancer” penafsiran makna kehidupan telah terkikis di tengah isu emansipasi wanita yang membentuk para ibu menjadi sosok yang “maskulin” di ranah public.

Pergeseran peran ibu yang disebabkan oleh nedia yang semula di yakini sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap upaya pewarisan nilai dan tradisi, kini telah tereduksi sebagai pihak yang secara biologis sekedar menghadirkan seorang anak ke muka bumi. Dampaknya, pandangan anak terhadap ibu tidak lagi “sakral’.

Sungguh memprihatinkan ya. . . . Fenomena ini sungguh penuh pengingkaran terhadap ajaran agama dan nilai – nilai moral.. T_T

Tidak ada komentar:

Posting Komentar